Fee_3 BloG’s

KUMPULAN TULISAN2 YG BERMANFAAT, 100% TIDAK MENGANDUNG unsur pornografi dan pornoaksi “MEMBACA MAKA KAMU AKAN CERDAS”

Tuk seseorang yang ku rindu

Ku tulis goresan hati ini, sebab hanya ini yang bisa kulakukan untukmu wahai seseorang hamba Allah yang sholeh yang entah sekarang berada dimana.

Tak terasa lima tahun lewat dari proses hijrahku, banyak hal yang ku pelajari tentang arti hidup, tentang arti perjuangan dan tentang arti cinta sebenarnya, yang dimana cinta itu dapat membuatku makin dekat dengan-NYA, yang dimana cinta itu makin menambah besarnya rasa cintaku pada-NYA, yang dimana cinta itu semakin membuatku rindu untuk bertemu dengang Sang Pemilik Cinta…

Wahai engkau yang kurindu…..

Ku masih menunggu bersama baktiku yang tertunda, bersama iman yang makin menipis, bersama dengan segala kekurangan yang ku miliki, bersama cinta yang selalu ada untuk Allah SWT

Wahai engkau yang kurindu…..

ku masih menanti saat yang indah itu, saat dimana engkau datang bersama ikrar dan keyakinan yang teguh guna menggenapkan setengah dien

Wahai engkau yang ku rindu….

Aku bukanlah sesosok khadijah yang agung dan mulia ataupun sesosok aisyah yang cerdas, namun ku hanya perempuan biasa yang memiliki banyak kekurangan yang hanya memiliki secuil kelebihan, ku ingin engkau hadir mengubah segala kekurangan itu menjadi kelebihan untuk kehidupan yang sempurna.

Wahai engkau yang ku rindu…

Jangan biarkan ku menuggu terlalu lama, sebab hati ini sangat rapuh oleh pengaruh godaan musuh2 Allah dan musuh kita yang setiap saat bisa menjerumuskanku ke lembah kenisntaan, naudzubillah min dzalik

Wahai engkau yang ku rindu….

begitu banyak amanah yang harus diemban, masih panjang perjalanan tuk bisa memenangkan dakwah ini, aku pun masih terfokus pada kemenangan dakwah ini, dan ku harap engkau pun begitu. Sebab kita adalah para jundi2 Allah para pewaris amanah dari Rasulullah Saw. Sang Pembawa kebenaran.

Wahai engkau yang ku rindu….

Ingin rasanya saat itu tiba, perjalanan panjang ini mengajarkanku banyak hal. Tentang makna bersyukur, tentang kesabaran dan tentang makna ikhlas, andai saja engkau tak kunjung datang, mungkin Sang Pencipta tidak merestui kita tuk bertemu di dunia ini,

namun yakinlah…kita akan dipertemukan di akhirat kelak

Wahai engkau yang kurindu….

Aku selalu yakin bahwa saat2 indah itupun akan tiba, disaat waktu yang tepat dan kondisi yang tepat, dan Allah pasti selalu tau apa yang hamba-NYA butuhkan…

Waktu Membawamu kembali…………….

Selamat datang wahai kau yang semula pergi kini telah kembali

Membawa seribu pertanyaan yang ingin kau menjawabnya

Kenapa kau bimbang? apakah pertanyaanku begitu sulit buatmu?

ku harap tidak…sebab jawaban yang terbaik itu terletak pada sisi kebaikanmu

kau tau….. ku senang kau kembali lagi memberi kabar

setelah beberapa saat kau menghilang tanpa jejak dan tanpa sebait kata

ku masih bisa membantumu dengan sebisaku

Karna ku masih peduli denganmu

Namun….seseorang mengatakan padaku bahwa kau hanya memanfaatkanku, benarkah itu?? ku harap tidak demikian

dan ku masih percaya padamu, sebab itu jagalah kepercayaanku

ku harap kau sekarang jauh lebih baik dari yang dulu

ku harap kabar angin tentangmu takkan pernah benar adanya

bukan untukku bukan pula untuk siapa2…

tapi untukmu semata….untuk kebaikanmu di dunia dan di akhirat kelak

ketahuilah………ku peduli padamu karena-NYA

Salam hangat buatmu

From me

Arti Cinta

Cinta….anugerah indah

cinta itu jiwa dunia

dengannya, manusia lahir

dengannya, manusia berbagi

dengannya, kebahagian termaknai

Tapi takkan terasa cinta sejati

sebelum cinta kepada Ilahi Rabbi

Mencintai itu naluriah, Dicintai hak hati dan rasa

Kalau mau, cintai apa saja

hanya, kau akan kehilangan, ataukah kau meninggalkannya

kerap cinta berlumur noda

membutakan mata

menyumbat telinga

mendangkalkan jiwa

merampas nalar

merenggut jiwa

hanya cinta-NYA, cinta Kepada-NYA, cinta Karena-NYA, cinta dijalan-NYA

alirkan sejuk mata air surga

sirnakan dahaga jiwa

selamanyaaa……..

Ya Allah, yakinkanlah aku dengan aturan-MU

Tambahkanlah keyakinanku

Tambahkanlah kepercayaanku

Dengan menjalankan perintah-MU

Dengan mengamalkan petunjuk-MU

agar aku semakin menikmati hidup

Agar aku semakin menikmati cinta

agar ku semakain bahagia

di dunia, hingga di akhirat sana

From : buku “Putriku, mama hanya ijinkan pernikahan”

Maafkan aku Ya Rabb……

Sampai saat ini perasaan itu masih sulit kutepis, masih sulit tuk dihapus, ku harus bagaimana agar ku bisa lupa padanya? maafkan aku Ya Rabb……entah kenapa rasa itu sulit terhapus, ku ingin dia pergi dari hatiku……kuingin dia menghilang dari pandanganku……….

Ya Rabb,…mengapa aku begini? mengapa masih ada percikan aneh ini? kuingin mengembara agar ku dapat melupakannya. Melupakan dia dari kenangan yg singkat, kenangan yang tak ingin ku ulang kembali…..

Ya Rabb……mengapa ku begitu lemah tuk meminta kepada-MU agar tidak merindukannya? agar tidak berangan-angan tentangnya, maafkan aku yg lemah ini Ya rabb………

Ya Rabb…jangan biarkan diri ini terus merinduinya, peliharahlah aku dari segala kekecewaan yang bisa membuatku jatuh lagi, ku tak ingin terjatuh kembali hanya karna rasa yg salah ini….

andaikan ku bisa mengulang waktu, mungkin ku bisa tuk mencegah dan menata hati ini lebih baik, agar rasa itu tidak pernah ada, agar rasa itu tidak terus menerus mengrogotiku. Ya Rabb………maafkanlah aku…

Ya Rabb……….ku mencintai-MU, tapi ku juga tak bisa mendustai hati kalo sampai detik ini ku selalu memikirkannya, tapi ku tak mau memperlihatkan padanya, karna ku tak ingin rasa ini makin menambah. Ya Rabb…..apakah keputusanku itu yang terbaik bagiku? kalo memang itu yg terbaik akan kulakukan dengan istiqomah yang tegar, agar ENGKAU senantiasa ridho padaku……

Ya Rabb……jangan tinggalkan aku, karna ku tak mau rasa ini membuatku goyah dengan apa yg telah ku azzamkan, ku ingin menjalani keputusanku ini dengan setegar batu karang dilaut, dengan iman yang menipis ini dan dengan sisa waktuku yang ada hanya untuk-MU….

Ya Rabb….maafkanlah hamba yg begitu lemah ini

Aku Rindu……

Aku rindu keheningan malam lalu, berdua dengan-MU

Aku rindu saat ku memuji dan memuja-MU dikesunyian malam

Mengapa saat ini ku tak bisa berdua dengan-MU menikmati malam yang hening

Ya Rabb…….

Apa begitu banyak dosaku? sehingga ku tak bisa lagi terjaga disetiap malam yg terlewat, ampuni hamba yg lemah ini….

Ku rindu ENGKAU…ku rindu tuk menangis dan merintih dihadapan-MU

Ya Rabb…..

Buatlah tubuh ini terjaga tuk bisa menikmati malam yg hening bersama dengan ummat-MU yang senantiasa terjaga di sepertiga malam, buatlah Jiwa ini tergerak melawan segala kenikmatan dunia yg semu,

Ya Rabb…….

Perjalanan panjang ini membuatku makin mengerti bahwa ku sangat membutuhkan-MU, ku sangat rindu pertemuan dengan-MU

akankah hamba bisa berjumpa dengan-MU? sedangkan kian hari dosaku terus menggunung, kian hari kuterlena dengan tipu daya dunia….astagfirullahh

Maafkan aku Ya Rabb……ampunilahh…..

sesungguhnya jiwa dan raga ini hanya milik-MU

ENGKAU yang lebih tau seberapa besar rasa cinta dan rinduku pada-MU

Ya Rabb…….

ku rindu ENGKAU……

Aku, kau dan Kenanganku

Saat kau membuka pintu hatimu
Mungkin aku telah jauh
Meninggalkan dirimu dan kenanganku
Rasa kecewaku padamu

Memang kau yang terindah
Yang pernah tercipta
Namun bukannya kau harus
Sia-siakan aku dengan segala tingkahmu

Biarkanlah aku mengembara jauh
Menghapus lupa kecewa karna dirimu
Jangan kau sesali kenyataan ini
Karna ku bahagia lepas dari jeratmu

aku pun juga takkan sesali pernah mengenal dirimu

ku hapus segala tentangmu, hari ini, besok dan nanti

Pengembaraan ini mengajarkanku agar ku tak tertipu oleh makhluk sepertimu

maaaf……hanya kata itu yang bisa kau ucapkan, tanpa berbuat apapun

kau terdiam…aku pun terdiam….hanya angin luka yang masuk di jiwaku

Menangis?!!….tak ada gunanya, kau pun takkan pernah memahami keadaan ini

Ku ingin melupakanmu dengan sesingkat kenangan yang ada

karna ku tak mau luka ini semakin mendalam menusuk kedalam relung hatiku

biarlah senja yang berlalu menceritakan akhir dari kisah ini

kuingin semunya kembali dengan sedia kala

kau dengan ego dan cuekmu…..

dan aku dengan kekurangan dan ketidakberdaayanku

ku hanya bisa berusaha tuk ikhlas menerima  semua ini……

by : Second Civil & Me

Aku memutuskan tuk tidak mengharapnya…

Hari ini serasa begitu tenang dihatiku, karna apa yang jadi pertanyaan dalam hati telah terungkap dengan sendirinya. Tentang perasaanku padanya, tentang kegelisahanku setiap kali mengingatnya dan tentang kerinduan yang makin hari makin membuatku tersiksa, semua itu telah terungkap,

dan aku memutuskan tuk tidak mengharapnya, mengharap sesuatu yang tidak pasti, mengharap dia yang belum tentu mengharap adanya aku pula. hanya akan membuatku kecewa dan sakit hati, kubiarkan rasa ini mengalir dengan sendirinya dan berlalu seiring dengan lajunya waktu. Tapi, aku tetap menyisakan sedikit cinta dan dia kan selalu ada dihatiku.

Saat ini….serasa begitu ringan kaki melangkah, dan hati begitu tenang tuk memulai hari esok. Jika esok aku bertemu padanya, kuingin katakan hatiku telah terlepas dari beban berat dan dari kerinduan yang selalu menyiksaku, karna aku memutuskan cinta dan kerinduanku hanya tuk SANG PEMILIK CiNTA dan Baginda besar Rasulullah, karna kuyakin janji-NYA pasti, dan aku tidak akan kecewa sedikitpun.

Jika sampai akhir hayatku,  Allah tak memberikanku sang pendamping di dunia ini, aku yakin Allah telah menyimpan untukku sang Pangeran di akhiratnya kelak, buat apa gelisah dan merana jika di syurga-NYA kelak, Allah menjanjikan yang terbaik untukku dan untuk seluruh perempuan sholihah..

menjadi salah satu bidadari Syurga..subhanallah..Insya Allah

Perempuan di dunia hanya perlu melakukan 3 hal tuk meraih syurga-NYA, beriman dan taat kepada Allah dan Rasul-NYa serta taat kepada suami.

Tapi, aku tetap berdoa agar DIA mempertemukanku dengan sang pangeranku di dunia ini. JIka dia datang kan kutempuh jalan yang telah Allah tetapkan dan gariskan, dengan istikharah yang sungguh2, agar semuanya berjalan dengan ridho dari-NYA.

Ya Allah…..

Kuingin menjaga hati ini agar tetap terjaga dari perasaan yang salah, sebab kuingin semuanya tetap terjaga, termasuk keikhlasan  beribadah kepada-MU, ku yakin semua ini tidak ada yang sia-sia, ku hanya menggantungkan harapanku pada-MU,….

Benar apa yang ENGKAU firmankan dalam ayat-MU, yakni “ingatlah AKU, dengan mengingatKU hati akan menjadi tenang”, Subhanallah……ENGKAU lebih tahu seberapa besar rasa cinta dan rinduku pada-MU ya Rabb…..

Rintihanku pada-Mu Ya Allah………..

Ya Allah….

Aku tahu ini salah

Aku tahu rasa ini tak harus ada di hatiku

Kenapa ku juga bisa menaruh perasaan padanya

Apa karena aku sudah begitu dekat dengannya??

Aku rasa tidak,….

Aku tetap jaga jarak dengannya

Bahkan aku berusaha tuk menghapus rasa yg salah ini

Ya Allah……

Engkau yang tahu hatiku

Aku mencintai-MU, tapi aku juga tak bisa membohongi diri

Bahwa aku suka padanya, bahkan mungkin aku cinta padanya

Maafkan hamba yang lemah ini

Yang tak bisa menundukkan hati tuk selalu menjaga hati agar tetap suci

Suci?? Adakah kata itu untuk hatiku??entahlah……

Ya Allah……………..

Maafkan aku yang tidak bisa menghapus dia dari dalam hatiku,

Aku begitu lemah tuk meminta pada-MU agar tidak merindukannya

Aku tak berdaya setiap saat dia datang dimimpi-mimpi indahku

Ku berusaha tuk menjauh darinya, kuberusaha tuk menghindar darinya

Tapi, apa yg kurasakan?? Bahkan aku semakin rindu padanya

Maafkan aku ya Rabb….

Ya Allah…………..

Adakah cinta suci itu kudapatkan disuatu hari nanti,

Kuingin segalanya tetap terjaga,

Sampai Engkau menggariskan takdir yang terbaik untukku dan untuknya

Sebab kuingin mencintai dia dengan ridho dan jalan halal yang Engkau gariskan

Andai saja ini bukan suatu mimpi…..

goresan pena : fee3

Indahnya Lingkaran Itu…

Sahabat…
Di ‘tempat’ inilah kita diajarkan keteladanan sejarah, bahwa perjuangan selalu
penuh dengan rintangan. Di kelompok ini kita dicontohkan untuk mengerti bahwa kita sebagai seorang muslim merupakan cermin bagi muslim yang lain. Kita saling bercermin diri, tentang mata pelajaran yang sulit, nilai ulangan, olahraga yang sering kita jadwalkan bersama, hingga tentang bacaan Al Qur’an, tentang shalat kita yang 5 waktu, tentang puasa sunnah dan amalan-amalan calon penghuni syurga lainnya.

Semangat pun tergugah mendengar nilai ulanganmu lebih besar dari nilai ulanganku, tentang bacaan Al Qur’an-mu menyalip bacaan Al Qur’an-ku, tentang sholat shubuhku yang sering kesiangan. Aku jadi malu mendapati diriku tak bisa mengatur waktu. Kita juga diajarkan bagaimana bisa berempati terhadap sesama. Kata Nabi, orang Muslim itu ibarat satu tubuh, jika ada yang sakit maka yang lain pun akan merasakan sakit. Sungguh indah memang ajaran Islam itu. Ketika diriku ada masalah, engkau tak segan-segan mengulurkan bantuan, begitu pula sebaliknya. Atas dasar Iman dan Islam itulah kita saling menolong, saling berbagi dalam suka dan duka.

Sahabat…
Kita sering saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia
mendengar salah seorang diantara kita mendapat peringkat pertama di kelas,
bahkan sampai juara umum, atau ketika salah seorang dari kita mendapat seorang adik lucu yang baru lahir. Kita pun saling berbagi dalam kesedihan, ketika ada salah seorang dari kita kehilangan ayah dan ibunya.
Kita juga saling bercerita keluh kesah suatu masalah, agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang kegiatan-kegiatannya di OSIS yang katanya semakin menggunung, atau semakin menantang. Ada juga yang bercerita tentang ayahnya yang kurang perhatian, selalu terus dimarahi tanpa adanya solusi.

Yang berkeluasan rizki bersedia menjadi tuan rumah untuk kita tempati dengan menyediakan nasi goreng buatan sang Ibu tercinta, atau rambutan yang dipetik dari halaman rumah.

Sesekali
kita pun ganti setting tempatnya, dengan menginap agar bisa lebih panjang bercengkrama. Pernah pula kita itikaf bersama di Istiqlal atau AtTin, lalu kita dirikan sholat tahajjud bersama. Saat sedang libur, kitapun pergi rafting ke Citarik Sukabumi, menguji nyali memacu adrenalin. Atau kita bertemu di tempat Curug Panjang, mengingat Illahi, bertafakur alam dan mengagumi kebesaran ciptaan-Nya. Kita berdiskusi mengungkapkan dan menyelesaikan bersama masalah kita masing-masing disaksikan air terjun, punggung bukit bercemara, hutan berlembah yang menawan. Tak lupa sesekali kita pergi ke Anyer menikmati pasir pantai memutih diterpa gelombang.

Tentu saja yang jauh lebih utama, kita berusaha mengingat Allah dalam sebuah
kumpulan, agar Allah mengingat kita dalam kumpulan yang lebih baik. Kita baca Al Qur’an, mengupas isinya, lalu kita dapati bahwa Dia menyuruh kita bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Allah SWT. Tak Lupa kita bedah buku Sirah Nabawi, agar kita mampu mengambil hikmah dan meneladani seorang manusia yang paling mulia yang pernah hidup di muka bumi ini, Muhammad Rasulullah SAW.
Tidak ada tekad lain ketika kita bubar dan saling bersalaman mendoakan, selain
agar hati hati ini saling terikat dengan doa yang tulus dan dapat kita bahas menjadi amal kenyataan.

Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mereka mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya. Malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR Muslim)

Disana bisa kita jumpai wajah sahabat-sahabat kita yang jenaka menghibur
disela-sela kepadatan aktivitasnya, ada pula yang pendiam, dan ada juga yang
tampak lelah karena banyak kegiatan. Ada yang diamanahi menjadi Ketua OSIS,
Ketua Pelajar Pecinta Alam, Ketua Karang Taruna di lingkungannya, dan kegiatan-kegiatan penting lainnya. Tapi subhanallah… ini adalah cahaya yang bergetar di antara kita. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan momentum perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Ust Salim A. Fillah bisa menyebut kelompok ini sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta..

Namun
Sahabat… Kadang aku tak merasakan nikmatnya kebersamaan ini, ada perasaan
hampa dan merasa ditinggalkan. Timbul keinginan kembali mencari kelompok lain, kelompok yang sering berpesta bersama, menghabiskan malam minggu dengan kumpul-kumpul di jalan ditemani pacar seperti dahulu. Ingin rasanya lepas dari kegiatan ini, belajar bareng, baca Al Qur’an, sholat tahajjud, dan aktivitas lain yang melelahkan. Ingin kembali bercengkrama dengan lawan jenis yang bukan muhrim, sekedar iseng atau mengisi kekosongan waktu. Bisikan syaitan yang menghanyutkan ke lembah neraka.

Padahal,
orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita berhenti berkumpul dengan kelompok ini untuk suatu waktu yang cukup lama.
Memang,
forum ini hanya sepekan sekali. Tetapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika kita menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktifitas kita. Membawa getaran
cahaya di kegelapan dunia, yang akan mengantarkan pembawanya ke syurga yang abadi.

Syukur kita kepada Allah atas hidayah ini, sehingga mampu merasakan getar cahaya di atmosfer cinta Semoga kelompok ini dan kelompok-kelompok yang serupa dengan ini kekal sampai surga-Nya….

Sekarang,
Bagimana denganmu?

Maka demi Allah,

apa yang Kau tunggu? Perkenalkan dirimu pada kelompok ini
sejelas-jelasnya. Katakan, Kau ingin bergabung dengan pertemuan kelompok ini. Kalau kelompok itu sudah terlalu sesak, lalu efektifitasnya drop, pengasuh kelompok itu pasti akan mencarikan sebuah kelompok lain yang indah untukmu. Seindah taman-taman syurga yang diceritakan di dalam kitab-Nya.
Percayalah… Banyak pelajaran berharga tentang kehidupan ini dan setelah
kehidupan ini yang tidak akan kau temui selain di kelompok ini. Tentang
indahnya kebersamaan, hakikat kehidupan, pun tentang cinta suci yang kan
membawamu ke syurga-Nya, bukan cinta yang dibungkus nafsu, kotor, penuh
kepura-puraan yang membawa pemiliknya ke jurang neraka paling dasar…

Kalau di sekolahmu ada kegiatan bernama mentoring keislaman, atau pembinaan, atau apalah namanya yang serupa cirinya dengan forum ini, barangkali itulah pintu lain bagimu memasuki Getar Cahaya di Atmosfer Cinta ini. Ayo! tunggu apalagi?!
jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!!!

Meet gabung…!

Mari Kita saling mengingatkan

Izinkan Aku untuk Cuti dari Dakwah ini

Oleh: Farizal Al Boncelli

Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama’i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata “afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan akh…” lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah “Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???

Sahabat-sahabatku…. Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan-permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”

Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.

Sahabat…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewaan yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.

Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “afwan”, “maaf” atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang bilang bahwa kata-kata “afwan”, “maaf” dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.

Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.

Sahabat…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata “afwan” yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata “Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini” tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah. Semoga…